Penguatan Peran Media Terhadap Kemajuan Sepakbola Indonesia

By
Updated: Senin, 29/12/14 06:41
Penguatan Peran Media Terhadap Kemajuan Sepakbola Indonesia

Komite Media Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menggelar diskusi bertajuk “Penguatan Peran Media Terhadap Kemajuan Sepakbola Indonesia” di Ruang Konferensi Pers Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (28/1).

Diskusi ini di lakukan 2 sesi, yakni sesi pertama dengan pembicara Sekretaris Jendral PSSI-Joko Driyono, Sekretaris Badan Tim Nasional (BTN), Sefdin Syaefudin, Pembicara Senior Media - Mahfudin Nigara dan Sesi kedua dengan pembicara pengamat media dan komunikasi - Efendy Gozali, Komite Media - Djamal Azis.

Sekretaris Jendral PSSI, Joko Driyono, menyebut PSSI  memandang media sebagai dua hal. “Media adalah cermin sekaligus menu makanan bagi PSSI. PSSI dapat bercermin, baik atau buruknya dari pemberitaan media. Selain itu media juga seperti menu makanan yang menawarkan banyak rasa dan nutrisi untuk kami, jangan sampai itu menjadi bumerang tersendiri bagi kami.”

Tanpa media, sepak bola Indonesia tak akan dikenal luas. Setiap pihak sangat membutuhkan media untuk menyaring dan menerima informasi. Selain itu media juga dapat memajukan sepak bola itu sendiri dan dapat membantu sepak bola untuk mendapat dukungan dari negara.

“Negara harus menganggap sepak bola itu penting. Karena jika negara sudah menganggap penting, tentu dengan sendirinya akan ada faktor-faktor pendukung sepak bola itu sendiri.”

Namun, menurut salah satu pembicara, Mahfudin Nigara hal tersebut bukan berarti membuat wartawan menghilangkan independensi pemberitaannya.

“Media harus bisa memposisikan diri menjadi pengawas organisasi, pelatih, dan pemain. Akan tetapi independensi pemberitaan harus tetap dijaga,” ujar Nigara.

Pemberitaan media massa mengenai sepakbola tanah air selalu mendapat sorotan besar dari publik. Akan tetapi menurut Sekretaris Badan Tim Nasional (BTN), Sefdin Syaefudin, selama ini yang disorot media massa hanya hiruk-pikuk konflik PSSI saja, tidak ada yang fokus pada pembangunan sepakbola tanah air.

“Saya punya saran untuk menyatukan agenda  setting media. Jika sudah menyatu, pemberitaan berbagai media yang serempak itu bisa membentuk realita. Agenda setting yang nantinya dibuat mengenai betapa pentingnya sepakbola, dengan itu mungkin negara akan memberi perhatian lebih sehingga sepakbola kita bisa maju,” beber Sefdin.

Bagi pengamat media dan komunikasi, Efendy Gozali, justru era media saat ini mendorong keterbukaan bagi PSSI untuk mendukung prestasi.

“Tiga elemen penting  yakni pemerintah (government), marketing (pasar) dan civil society (masyarakat), adalah hal penting yang melingkari kedudukan sebuah media,” tegas Efendy.

Tak dipungkiri media kini dapat mengangkat hingga kehidupan pribadi para pemain sepak bola itu kehadapan mata para pemerhati sepak bola.

Namun, Efendy tak dapat menampik bahwa selain dapat mengangkat setinggi langit, media khususnya media massa telah terbukti juga mampu menjatuhkan sebuah industri sepak bola.

Seperti contoh yang terjadi pada sepak bola Inggris, saat sikap kritis media telah mampu menghancurkan organisasi dan semangat juang sebuah tim papan atas Liga Inggris.

“Dari semua negara di Eropa, media massa Inggris itu memang terkenal sangat kejam. Padahal, salah satu fungsi media massa adalah untuk membangun, termasuk di dalamnya membangun semangat,” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan sepak  bola dan media di negeri ini? Secara pribadi pria asal Padang ini sangat menyayangkan bahwa berita sepak bola di negeri yang banyak menyoroti tentang perilaku buruk para stakeholder yang mengaku hendak memajukan persepakbolaan tanah air.